Gelar Budaya Wukirsari 2025 Hari Ketiga: Tarian Tradisional, Nostalgia Musik, dan Srandul Manunggal Budaya
Wukirsari, 15 September 2025 — Rangkaian Gelar Budaya Wukirsari 2025 memasuki hari ketiga dengan suguhan istimewa dari berbagai kesenian tradisional hingga hiburan rakyat yang penuh keakraban.
Acara dibuka dengan penampilan dua tarian tradisional dari Sanggar Seni Cindhe Wulung, Dusun Kedung. Penampilan ini berhasil memikat penonton dengan gerak yang anggun sekaligus penuh makna. Salah satu penari mengungkapkan pengalamannya menekuni seni tari sejak duduk di bangku Sekolah Dasar hingga SMA di sanggar tersebut. “Harapan saya, kesenian khususnya seni tari tradisional di Wukirsari bisa semakin maju dan berkembang,” ungkapnya penuh semangat.
Selain tarian, suasana Gelar Budaya juga semakin meriah dengan hiburan musik band yang unik karena para pemainnya merupakan pamong dan dukuh Wukirsari. Lagu-lagu nostalgia yang dibawakan berhasil membawa penonton larut dalam kehangatan dan kebersamaan.
Sebagai penutup malam ketiga, tampil seni Srandul Wukirsari “Manunggal Budaya” dengan lakon berjudul “Dununge Pangarso”. Dalam kesempatan itu, Yulianto selaku ketua kesenian srandul menjelaskan makna sejarah kesenian ini. “Dahulu srandul merupakan sarana dakwah agama Islam melalui seni peran dan lagu bernuansa religi. Namun kini, srandul juga menjadi wadah untuk mengajak penonton berbuat kebaikan secara umum,” terangnya.
Dengan penampilan yang beragam dan penuh makna, hari ketiga Gelar Budaya Wukirsari 2025 semakin menegaskan bahwa kesenian tradisional tetap relevan, sekaligus menjadi perekat sosial dan sumber inspirasi bagi masyarakat.
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin